Astra Financial Jawab Tantangan Utama Lembaga Jasa Keuangan Demi Inklusi Keuangan di Seluruh Nusantara

Ketika peradaban semakin maju seiring berjalannya waktu, salah satu hal yang sangat penting untuk diperhatikan adalah kualitas layanan jasa keuangan. Kegiatan zaman sekarang seringkali melibatkan pihak-pihak dengan jarak yang berjauhan sehingga pelayanan jasa keuangan haruslah mencakup seluruh wilayah di Tanah Air. Ketika ada daerah yang tidak memiliki pelayanan jasa keuangan yang optimal atau bahkan tidak memilikinya sama sekali, kemajuan kehidupan di daerah tersebut akan terganggu bahkan bisa jadi terhambat.

Potret jangkauan jasa keuangan di kota besar

02
Tinggal di pinggiran ibu kota membuat saya sulit memilih-milih bank, bahkan ada satu bank saja sudah sangat bersyukur. Di sinilah dulu pertama kali saya mengenal layanan perbankan, jaraknya lima belas menit dari rumah dengan sepeda motor. Foto diperoleh melalui Google Street View.

Jika kita melihatnya di kota besar, tentu kita akan mengatakan bahwa pelayanan jasa keuangan sudah jauh membaik dan bahkan sudah sangat mencukupi kebutuhan masyarakat. Lima belas tahun lalu, saya masih ingat betul bahwa begitu sulitnya untuk mencari ATM dan kantor cabang bank, sekalipun milik bank besar, di Kota Tangerang yang merupakan pinggiran Jakarta sampai-sampai saya harus menempuh perjalanan selama lima belas menit dengan sepeda motor dari rumah ke bank terdekat sekalipun hanya untuk menarik uang.

01
Katalog home delivery dari salah satu penerbit kartu kredit lengkap dengan tawaran cicilan yang dulu sangat saya andalkan ketika masih tinggal di pinggiran ibu kota dan jauh dari pusat perbelanjaan. Foto merupakan milik charemon.blogspot.com.

Berbelanja dengan kartu debit dan kredit pun masih tergolong cukup istimewa sehingga katalog home delivery produk dengan cicilan nol persen dari bank pun masih menjadi primadona. Sangat sulit mencari merchant yang menerima pembayaran dengan kartu debit dan kredit, apalagi mencicil.

03
Empat kantor cabang bank berjejer rapi dalam satu kompleks ruko yang sama. Foto diperoleh melalui Google Street View.

Sekarang? Kantor cabang bank tersedia di mana-mana, baik itu di ruko, pasar, pusat perbelanjaan, gedung perkantoran, rumah sakit, maupun kantor pemerintahan. Bahkan, beberapa bank besar memiliki jarak antarkantor cabang yang bisa dijangkau dengan mobil dalam waktu kurang dari lima menit. Mesin ATM kini juga menjamur sampai-sampai ke minimarket di berbagai wilayah, bahkan kini sudah tersedia mesin ATM yang merangkap sebagai CDM untuk menyetor uang tanpa harus mendatangi teller bank.

04
Ketika cakupan dan kualitas layanan keuangan sudah hampir setara, hal yang dapat menarik perpindahan konsumen adalah promosi. Foto merupakan milik Megapolitan Kompas.

Itu baru urusan perbankan. Investasi, asuransi, pembayaran cashless, sampai pinjaman nonperbankan juga bisa dengan mudah didapat di kota besar. Bukan kita yang mencari mereka, melainkan mereka yang justru menawarkan diri demi menarik perhatian, minat, dan partisipasi kita. Misalkan saja, cashback dompet digital dengan persentase dan nilai nominal yang begitu menggiurkan dan mudah didapat di berbagai merchant. Sampai-sampai, kini pertarungan lebih mengarah ke besar diskon karena kualitas layanan kurang lebih sama.

Potret jangkauan jasa keuangan di luar kota besar

Lain halnya di kota besar, jangan mengharapkan hal yang sama terjadi juga di daerah. Tak jarang jasa keuangan masih sulit diperoleh, bahkan bisa jadi warga setempat harus pergi ke kota besar terdekat demi bisa memeroleh layanan yang dibutuhkannya.

20181230_090135
Berbeda dengan ibu kota di mana banyak penjual makanan pinggir jalan sudah bergabung dengan layanan pembayaran cashless, mereka di Lembang masih mengandalkan pembayaran tunai. Liburan bermodal cashless? Siap-siap makan makanan yang itu-itu saja dan bukan khas setempat. Foto merupakan dokumen pribadi.

Ketika akhir tahun lalu saya berlibur ke Lingkar Lembang, Jawa Barat, saya menemukan kesulitan yang cukup luar biasa untuk menarik uang tunai di mesin ATM supaya bisa jajan-jajan dan makan yang sebagian besar hanya mendukung pembayaran tunai alias cash. Dengan bermodal kartu debit, kartu kredit, dan saldo e-wallet, saya terpaksa bekerja keras mencari hotel yang mendukung pembayaran berbasis kartu dan tempat makan yang mendukung penggunaan e-wallet. Makan berulang-ulang di tempat yang sama, itulah yang terjadi di liburan saya. Padahal, boleh dibilang Lingkar Lembang masih berada di Pulau Jawa dan tepatnya tidak jauh dari salah satu kota besar yaitu Bandung, ibu kota Jawa Barat.

05
Berbeda dengan ibu kota yang banyak memiliki ATM Center berisikan mesin dari berbagai bank, Anda akan kesulitan menemukan mesin ATM yang sesuai di Belitung, terlebih lagi jika bank tersebut bukan bank besar nasional. Foto merupakan milik Bookingcom.

Cerita lebih menyedihkan datang dari kampung halaman saya di Negeri Laskar Pelangi, Belitung. Masalah sedikitnya mesin ATM, kantor cabang perbankan, dan jarangnya dukungan pembayaran dengan e-wallet mungkin masih bisa ditoleransi, tetapi mereka juga memiliki kesulitan terkait proteksi asuransi kesehatan. Dulu, keluarga saya harus datang ke Jakarta ketika sakit dan membutuhkan rawat inap demi bisa melakukan klaim asuransi, untungnya ada penerbangan langsung ke Jakarta. Sekarang, memang sudah ada rumah sakit setempat yang bekerja sama dengan perusahaan asuransi, tetapi justru tenaga pemasaran asuransinya yang masih kurang. Mereka kesulitan untuk menemukan perwakilan perusahaan asuransi yang mereka inginkan, jika ada pun mencari sosok yang berdedikasi melayani nasabah dengan kualitas pelayanan mumpuni pun sulit. Bagaimana dengan mereka di pelosok tanpa jangkauan jasa keuangan, sarana telekomunikasi terbatas bahkan tidak ada, suplai uang tunai juga terbatas, dan begitu sulitnya untuk menjangkau daerah lain sekalipun kota besar terdekat?

Kacaunya pemahaman keuangan di Indonesia

Dari mereka yang sudah terpapar jasa keuangan dengan baik, sekalipun di kota besar bukan berarti mereka memahaminya dengan baik. Boleh dibilang bahwa pemahaman mereka kacau, sungguh kacau. Saya sebut saja dua contoh ya.

Pertama, mereka hanya memilih bank berdasarkan popularitas, tingginya suku bunga, dan menggiurkannya hadiah. Padahal, bank yang lebih baik untuk menabung tentunya adalah bank dengan permodalan lebih kuat, salah satu penentunya adalah pemeringkatan BUKU yang masih banyak belum dikenal di masyarakat. Dan, ada tingkat suku bunga yang wajar, yaitu ketika di bawah batas maksimum yang ditetapkan oleh LPS, bukan setinggi-tingginya.

06
Dalam menawarkan asuransi berjenis unit-link, tenaga pemasar seringkali menerangkan hanya sisi investasinya dengan imbal hasil yang terus bertambah di paling kanan dan proteksi yang akan terus berlangsung seumur hidup hanya dengan pembayaran berjangka. Pada kenyataannya, imbal hasil investasi tidak pasti, nasabah bisa merugi, dan proteksi akan berhenti karena saldo tersedia habis. Ilustrasi merupakan milik PasarAsuransi.

Kedua, asuransi kesehatan berbasis unit-link misalnya. Demi pendapatan tinggi, tenaga pemasar banyak menekankan hanya seputar harga kamar dan potensi investasi di imbal hasil maksimal yang begitu kinclongnya. Padahal, ketika terjadi klaim dan tidak semuanya ditanggung, itu karena ada lagi pembatasan untuk setiap pos biaya yang belum tentu dipahami oleh konsumen. Begitu juga dengan pertanggungan yang berakhir tanpa uang tersisa, hal ini juga belum tentu dipahami oleh konsumen.

Pentingnya mewujudkan inklusi keuangan di Indonesia

07.jpg

Demi menurunkan tingkat kemiskinan dan mewujudkan pemerataan ekonomi di seluruh Indonesia, kita semua harus mengupayakan inklusi keuangan, yaitu terpenuhinya hak setiap orang untuk memiliki akses dan layanan penuh dari lembaga keuangan secara tepat waktu, nyaman, informatif, dan terjangkau biayanya dengan penghormatan penuh kepada harkat dan martabatnya. Inklusi keuangan ini mencakup : sarana menyimpan uang yang aman (keeping), transfer, menabung maupun pinjaman, dan asuransi.

Masyarakat tentu akan senang-senang saja jika layanan jasa keuangan menghampiri mereka. Tantangan kini ada pada lembaga jasa keuangan itu sendiri, bagaimana caranya bisa menghampiri masyarakat dengan berbagai profil sampai ke pelosok dengan memberikan kualitas pelayanan yang sama dengan biaya yang adil dan terjangkau di seluruh Indonesia sehingga mereka mau terlibat aktif untuk memanfaatkannya.

Keterbatasan sumber daya di daerah

Masuk ke daerah bukanlah perkara yang mudah, khususnya jika menjadi pionir di sana. Di tengah keterbatasan sarana transportasi dan telekomunikasi, lembaga jasa keuangan perlu mengeluarkan modal besar untuk membangunnya demi kelancaran operasional usaha. Sebisa mungkin sarana dan prasarana ini bisa dimanfaatkan juga oleh masyarakat agar bermanfaat secara luas.

Masalah berikutnya yang harus dihadapi adalah rekrutmen tenaga kerja untuk menjalankan operasional perusahaan di daerah tersebut. Lembaga jasa keuangan sulit untuk mencari pegawai berkompetennya yang mau ditempatkan di pelosok, sedangkan tenaga kerja yang ada di sana belum memenuhi kebutuhan kualifikasi. Jika kita terlalu lama dan terlalu banyak mengandalkan pendatang, maka kita tidak membangun kualifikasi tenaga kerja lokal dan pada akhirnya akan menimbulkan kecemburuan sosial. Solusinya, mau tidak mau kita harus mempekerjakan para pendatang di masa-masa awal sekaligus mendidik insan-insan terbaik di sana sampai pada akhirnya mereka siap menggantikannya.

Dibandingkan di kota besar, tentu kita akan menemukan lebih banyak masyarakat dengan status unbankable di daerah yang membutuhkan bantuan permodalan dan memiliki prospek usaha cemerlang. Dengan profil risiko nasabah yang lebih besar dan sulitnya menilai risiko tersebut mengingat mereka hidup tanpa slip gaji serta catatan keuangan yang baik, hanya lembaga jasa keuangan bermodal besar yang berani mengambil risiko lebih besar untuk memberikan pinjaman, terlebih lagi jika tanpa jaminan. Selain keberanian tersebut, lembaga jasa keuangan juga dituntut untuk meringankan syarat pemberian pinjaman dan memberikan suku bunga yang wajar agar tidak memberatkan peminjam di kemudian hari.

Meskipun kantor lembaga jasa keuangan sudah hadir sedekat mungkin, tetap saja transportasi dari lokasi warga ke sana cukup sulit dilakukan. Untuk transaksi yang tidak memerlukan uang tunai dan pertemuan langsung, mereka diharapkan dapat ikut menikmati inovasi teknologi keuangan (fintech) yang bisa digunakan dengan mudah sekalipun dari ponsel biasa saja. Oleh karena itu, aplikasi yang ada saat ini perlu dibuat lebih ringan dan simpel untuk meningkatkan kenyamanan penggunaan di ponsel kelas bawah (meliputi low-end smartphone dan feature phone), juga menyediakan pilihan bahasa daerah bagi mereka yang tidak lancar berbahasa Indonesia.

Terakhir, layanan ini tidak akan bermanfaat jika tidak dibarengi dengan minat masyarakat untuk menggunakannya. Oleh karena itu, peran lembaga jasa keuangan juga dibutuhkan dalam memberikan literasi keuangan kepada masyarakat di luar produk yang dibuat juga menyesuaikan dengan kondisi masyarakat setempat, misalnya dengan melahirkan produk asuransi pertanian di daerah yang didominasi oleh kegiatan agraris.

Masyarakat perlu diedukasi bahwa menabung di bank itu penting untuk kemudahan mengajukan kredit sekaligus lebih aman dibandingkan menaruh uang di bawah bantal demi meningkatkan tingkat kepemilikan rekening bank yang baru sekitar 60 persen. Masyarakat perlu diedukasi bahwa penting untuk mengasuransikan diri dan aset, bukan sekadar buang-buang uang dan hal ini sangat bermanfaat serta jauh lebih murah dibandingkan menanggung sendiri seluruh risiko ketika kejadian yang tak diinginkan itu datang. Masyarakat perlu diedukasi bahwa meminjam uang di lembaga keuangan itu tidak ribet dan jauh lebih prosedural dibandingkan dengan kepada rentenir. Semua edukasi ini perlu disampaikan dengan cara yang benar dan terbuka, tidak boleh juga terlalu menonjolkan kelebihan lembaga keuangan dan menutup-nutupi risiko yang mungkin dihadapi oleh masyarakat.

Jawaban Astra Financial untuk inklusi keuangan Indonesia

002
ASTRA Financial untuk pelanggan otomotif Indonesia. Foto merupakan milik BeritaTrans.com.

Grup Astra, melalui induk sektor keuangannya yaitu Astra Financial, membawahi sebelas anak usaha yang bergerak dalam mewujudkan inklusi keuangan kita. Kiprah perbankannya diwujudkan oleh PT Bank Permata Tbk yang telah melantai di Bursa Efek Indonesia dengan kode saham BNLI dan menjadi salah satu bank swasta terbesar di Tanah Air. Sedangkan kiprah di luar perbankannya antara lain PT Astra Sedaya Finance, PT Federal International Finance (FIF), PT Toyota Astra Finance (TAF), PT Asuransi Astra Buana, Astra Life, dan yang terkini adalah Astra WeLab Digital Arta (AWDA) sebagai penyedia layanan fintech.

Bank Permata

11
Pelayanan nasabah di kantor cabang Bank Permata. Foto merupakan milik Bisnis.com.

Bank Permata, bank yang sempat menjadi pilihan utama saya sebagai nasabah selama empat tahun sebelum terpaksa pindah karena kebutuhan, berpartisipasi dengan program inklusi keuangan dari Bank Indonesia. Ketika masih jarang ditemukan bank yang menawarkan tabungan berjangka dan tabungan untuk pelajar, Bank Permata hadir dengan tabungan PermataBintang, tabungan berjangka Berhadiah, dan tabungan berjangka konvensional.

Kini, pelajar dari jenjang PAUD hingga SMA bisa menabung melalui produk Simpanan Pelajar (SimPel) baik melalui skema konvensional maupun Syariah dengan setoran awal yang ringan, bebas biaya administrasi, kepemilikan kartu debit nasional, dan fleksibilitas transaksi melalui e-channel yang seringkali tidak ditawarkan oleh bank lain. Nasabah dewasa juga bisa mendapatkan tabungan bebas biaya administrasi dan mendukung e-channel melalui program TabunganKu iB. Kanal elektronik yang tersedia meliputi : aplikasi PermataMobile X, PermataNet, PermataTel, dan PermataATM.

Astra Credit Companies (ACC)

Astra Credit Companies, salah satu anak usaha Astra Financial yang paling populer, adalah lembaga jasa keuangan dari Astra Financial yang sejak tahun 1994 dikenal menyalurkan kredit pembelian mobil baru dan bekas. Sulit dan lamanya proses mengajukan kredit pembelian kendaraan melalui bank, terlebih lagi mobil bekas, membuat peran ACC sangat membantu masyarakat. Tak sampai di situ, sebenarnya ACC juga menyediakan fasilitas pembiayaan untuk pembelian alat berat, fasilitas pembiayaan investasi, pembiayaan modal kerja, pembiayaan multiguna dan sewa operasi (operating lease). Menyesuaikan dengan era digitalisasi, ACC meluncurkan aplikasi ACCYes! untuk memudahkan nasabahnya.

12
Daihatsu Xenia seperti ini yang pernah menjadi andalan teman saya selama kurang lebih sepuluh tahun, dibeli dengan kredit melalui ACC dan selalu diasuransikan di Garda Oto. Foto diperoleh melalui OLX.

Saya masih ingat betul dengan salah seorang teman yang merupakan single parent, pegawai salah satu perusahaan swasta, dan harus menghidupi putri tunggal sekaligus menjadi tulang punggung keluarga besarnya. Untuk bisa menyediakan kendaraan yang nyaman dan menampung seluruh anggota keluarganya, beliau ini membeli Daihatsu Xenia baru berwarna silver (perak) pada tahun 2008 dengan program kredit selama lima tahun dari ACC. Mobil ini memberikan banyak kenangan untuk mengantar putrinya ke sekolah, bolak-balik kantor dan tempat lainnya dalam perjalanan dinas, sampai perjalanan liburan keluarga besar overland berkeliling Jawa dan Bali. Dengan kerja keras sepenuh hati, teman saya ini berhasil melunasi kredit mobilnya tepat waktu.

Ketika mobil tersebut tepat berusia lima tahun, rumah pamannya membutuhkan perbaikan dengan biaya yang cukup besar dan teman saya ini tidak memiliki uang untuk memenuhinya. Mengandalkan pinjaman tunai dari kartu kredit dan penyedia kredit tanpa agunan (KTA) lainnya tentu tidak bisa mencukupi nominal uang yang dibutuhkan, tetapi tentu tidak perlu sampai mendapatkan uang seharga rumah. Karena mobil itu begitu dibutuhkannya, tentu tak bisa dijual. Saya menyarankan dia untuk mengagunkan mobilnya kepada salah satu anak usaha Astra Financial dan saya lupa anak usaha yang mana, tetapi yang pasti dia bisa membawa pulang uang dengan nominal sesuai kebutuhan dan melunasi kembali mobilnya dalam tiga tahun.

13.png
Berganti mobil, Daihatsu Sigra menjadi andalan dan kreditnya lagi-lagi melalui ACC. Foto diunduh dari situs resmi Daihatsu.

Tahun lalu, akhirnya mobil Xenia ini mulai merongrong dengan jarak tempuh di odometer sudah melebihi 200.000 km dan beberapa kali melibas banjir besar di Jakarta. Biaya perbaikan semakin melonjak sehingga tentu lebih baik baginya untuk membeli mobil baru. Setia dan puas dengan pengalaman bersama Xenia, teman saya lagi-lagi membeli mobil dari Daihatsu tetapi kali ini menjadi Sigra karena harga Xenia yang sudah melambung terlalu tinggi dan pastinya mengandalkan program trade-in berikut kredit oleh ACC. Asuransinya? Dari dulu tidak pernah pindah dari GardaOto karena proses klaimnya yang mudah dan cepat, ada fasilitas derek, serta tersedia fasilitas mobil pengganti sehingga mobilitasnya tidak terganggu.

Astra WeLab Digital Arta

09
Maucash, aplikasi peer-to-peer lending di bawah kiprah grup Astra Financial. Ilustrasi diperoleh melalui situs resminya.

Melihat potensi bisnis fintech sekaligus menjawab permasalahan pada mereka yang meluncur lebih dulu, baik tentang kekuatan permodalan maupun prosedur penagihan yang tak semestinya, Astra Financial hadir melalui Astra WeLab Digital Arta (AWDA), hasil kolaborasinya dengan WeLab untuk menyediakan layanan peer-to-peer lending melalui aplikasi MauCash. Penilaian dan persetujuan kredit tidak dilakukan secara asal-asalan dan juga tidak berlangsung lama, tetapi mengandalkan teknologi big data yang cepat dan mumpuni.

Pada tahap awal, MauCash menawarkan dua produk pinjaman. Produk pertama, yaitu Mau Cepat, merupakan pay day loan dengan plafon dalam rentang Rp 1 juta hingga Rp 3,5 juta dengan tenor 10 sampai 30 hari. Sedangkan program kedua, yaitu Mau Ringan, menawarkan tenor lebih panjang yaitu tiga sampai enam bulan dengan plafon Rp2 sampai 8 juta dan skema pembayaran cicilan.

Layanan lainnya berbasis aplikasi

10.png
Penjualan polis secara online oleh Asuransi Astra melalui kanal HappyOne.

Tak sampai di situ, inovasi teknologi keuangan juga dihadirkan melalui aplikasi Asuransi Astra, Garda Mobile Otocare sebagai penunjang asuransi kendaraan GardaOto, FIFGROUP Mobile Customer, TAF, pembelian asuransi jiwa online di situs I Love Life, dan produk asuransi online lainnya melalui HappyOne.

Bank Wakaf Mikro

08
Acara peresmian Bank Wakaf Mikro (BWM) Honai Sejahtera Papua Pondok Pesantren Ya Bunayya di Jayapura sebagai bentuk kepedulian sosial Astra Financial dan diwujudkan bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Foto merupakan milik Berita Satu.

Untuk menjangkau konsumen yang belum terpapar jasa keuangan, Astra bersama ACC, FIFGROUP, dan Asuransi Astra berusaha meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sekitar pondok pesantren dan pedesaan dengan meresmikan Bank Wakaf Mikro (BWM) Minhajut Thullab di Banyuwangi dan Sunan Gunung Jati Ba’alawy di Semarang pada awal tahun ini. Bukan yang pertama, tetapi sudah menjadi BWM kedua yang diresmikan grup Astra untuk berpartisipasi dalam kemajuan inklusi keuangan kita. Waktu belum lama berjalan, Astra Financial lagi-lagi meluncurkan Bank Wakaf Mikro (BWM) Honai Sejahtera Papua Pondok Pesantren Ya Bunayya di Jayapura pada akhir April sehingga tak terasa sudah menjadi empat BWM. Ke depannya, akan menyusul BWM lainnya sehingga secara keseluruhan terwujud sepuluh BWM yang rencana pendiriannya didukung penuh oleh Astra International bersama anak-anaknya dalam keluarga Astra Financial.

Harapan kita untuk inklusi keuangan di Indonesia

Kita tentu berharap Astra Financial Service sukses dan lancar dalam mewujudkan inklusi keuangan di Tanah Air. Tak sampai di situ, lembaga jasa keuangan lain diharapkan juga ikut berkontribusi sehingga Indonesia benar-benar bisa segera mewujudkan inklusi keuangan secara menyeluruh. Di 2017 lalu, Indonesia memeroleh penghargaan Global Inclusion Award sebagai negara terbaik se-Asia Pasifik dalam pencapaian inklusi keuangan. Ke depannya, kita tentu tidak hanya mengharapkan penghargaan dan prestise, tetapi dampaknya secara realistis terhadap turunnya angka kemiskinan di Indonesia.

2 respons untuk ‘Astra Financial Jawab Tantangan Utama Lembaga Jasa Keuangan Demi Inklusi Keuangan di Seluruh Nusantara

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.