Belajar dari Grup KORINDO, Swasta Berperan Meningkatkan dan Memeratakan Taraf Hidup Daerah 3T, Tidak Terus Hanya Menunggu dan Menuntut Pemerintah

CevKorindo006.jpg
Indonesia adalah negara yang kaya. Sumber daya alamnya kaya, budayanya kaya, dan sumber daya manusianya berkualitas baik dari sisi akademis maupun nonakademis.

Indonesia adalah negara yang kaya, benar Indonesia itu sangat kaya. Betapa kita tidak bersyukur, wilayahnya luas, sumber daya alamnya begitu kaya, dan masyarakatnya pun tergolong cerdas. Dengan modal seperti ini, sudah seharusnya Indonesia mampu memeroleh kebanggaan yang luar biasa dan menjadi salah satu pemain penting dalam percaturan internasional.

Kesenjangan hidup antara warga kota besar dan warga daerah

CevKorindo007.jpg
Potret menariknya kehidupan kota besar di Indonesia yang menunjukkan betapa majunya kehidupan di sini.

Jika melihat sejarah Indonesia yang dulunya diperebutkan oleh para penjajah, benar juga Indonesia ini begitu kaya. Tidak ada negara yang mau mengeluarkan modal besar dan bersusah payah menguasai suatu wilayah jika tidak ada keuntungan yang bisa diperoleh, kan? Di zaman sekarang, Indonesia pun masih menjadi negara yang seksi sebagai tempat berbisnis dan berinvestasi. Potret ini terlihat benar adanya, lihatlah Jakarta dengan menara pencakar langit yang begitu mewah nan mahal sebagai pertanda majunya kehidupan di ibu kota.

CevKorindo008.jpg
Kehidupan di daerah tertinggal. Foto merupakan milik jejakpengabdian.wordpress.com.

Hal sebaliknya terjadi dengan kehidupan di daerah. Bagi sekelompok orang yang berwawasan sempit, warga daerah selalu dipandang jijik sebagai manusia yang tidak berpendidikan, tidak punya kemampuan, tidak punya uang, dan kehidupannya cenderung terbelakang sehingga keberadaan mereka tak dianggap dan justru dihindari. Hal ini tidak sepenuhnya salah, tetapi bukan berarti semua warga daerah memiliki kondisi demikian.

CevKorindo009.jpg

Prestasi warga daerah, daerah yang dianggap paling lemah, tak kalah membanggakan dengan warga perkotaan jika dibina dengan baik dan benar. Secara umum, semuanya bisa berubah menjadi lebih baik jika dibina dan dikembangkan dengan sepenuh hati sehingga kita benar-benar mewujudkan perubahan untuk Indonesia yang lebih baik secara menyeluruh dari Sabang hingga Merauke sesuai tujuan nasional yaitu menjadi negara yang adil dan makmur.

Memandang kehidupan di daerah 3T dan betapa penting untuk memperbaikinya

CevKorindo011.jpg
Infografis dibuat sendiri oleh penulis berdasarkan data yang diperoleh dari daftar daerah tertinggal milik Beasiswa Unggulan Kemendes.

Dari sekian banyak daerah di Indonesia, kita harus memfokuskan perhatian pada daerah terdepan, terluar, dan tertinggal alias daerah 3T. Berdasarkan data dari Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (PDTT) yang dihimpun oleh Okezone pada Juli 2018, saat ini terdapat 67 kabupaten yang memiliki pulau kecil dan terluar dengan 187 kecamatan berstatus terluar dan 122 daerah tertinggal. Kehidupan mereka cenderung menyedihkan : jauh dan sulit untuk mencapai kota besar terdekat, harus bisa bertahan di daerah sendiri dengan infrastruktur yang terbatas, mahal dan begitu lamanya demi mendapatkan barang-barang kebutuhan, serta jarang tersentuh uluran tangan Pemerintah.

CevKorindo010.jpg
Membangun teras yang indah di perbatasan menunjukkan citra Indonesia yang positif di mata negara tetangga. Foto merupakan milik Spirit Riau.

Padahal, jika dilihat-lihat lagi, daerah 3T ini adalah perbatasan Indonesia dengan negara lain yang seharusnya dijaga ketat. Dengan kondisi kehidupan warga yang terus dibiarkan demikian, mereka hidup sangat kasihan bersama kesenjangan yang begitu tinggi. Tentunya negara lain akan tertarik untuk “membantu” sehingga perlahan-lahan uang untuk membeli barang, sumber daya alam yang dijual secara ilegal, warga negara yang berpindah karena merasa tidak puas dengan negaranya sendiri, dan bahkan wilayah bisa melayang. Sebaliknya, jika dibina dengan baik, kita bisa bangun perbatasan jadi terasnya Indonesia yang begitu indah dan setara dengan kemajuan kota-kota besar.

Cara yang tepat untuk membangun daerah 3T

Banyak cara bisa dilakukan dalam mewujudkan pembangunan daerah 3T, tetapi kita harus memahami bahwa partisipasi aktif pihak swasta mutlak dibutuhkan untuk mengakselerasinya mengingat Pemerintah memiliki keterbatasan dana di tengah banyaknya kebutuhan nasional. Satu lagi, usaha yang dipilih harus ditujukan bagi kemampuan warga setempat. Jangan sampai kisah pedih di daerah dan negara lain terulang kembali, pembangunan justru hanya menguntungkan warga luar daerah bahkan pihak asing yang menjadi pendatang di sana atau mengeruk keuntungan dari investasi di sana tanpa melibatkan warga setempat.

CevKorindo012.jpg
Anak pintar di kota besar membaktikan diri untuk mengajar di Papua melalui program Indonesia Mengajar. Foto merupakan milik Indonesia Mengajar.

Hal pertama adalah membangun kesiapan sumber daya manusia setempat untuk memiliki daya saing seperti warga kota besar. Dengan demikian, apa yang nantinya kita bangun di sana bisa mereka kelola, manfaatkan, kembangkan, dan rawat secara mandiri. Mereka bisa memanfaatkan sumber daya alam yang ada untuk diolah menjadi produk yang berguna dan bernilai jual, sekaligus bisa memeroleh pendapatan dari kegiatan berbasis digital.

Caranya? Kita perlu mengirimkan pendidik berkompeten dari kota besar dan berbagai sarana pendidikan berbasis teknologi untuk mendidik warga setempat. Di sini, kita membutuhkan kesediaan dan kerelaan hati dari orang-orang pintar di kota besar untuk mau mengabdi tanpa memikirkan berapa pendapatan yang akan diperolehnya dibandingkan mengerjakan pekerjaan lain. Selain itu, beasiswa dan bantuan pendidikan lainnya juga diberikan kepada siswa potensial untuk melanjutkan pendidikan di kota besar atau luar negeri serta memastikan mereka kembali untuk berkarya di daerah asalnya.

CevKorindo013.jpg
Salah satu cara percepatan pembangunan daerah 3T adalah dengan membangun infrastruktur yang memadai. Foto merupakan milik Kemendes.

Hal kedua adalah membangun infrastruktur yang memadai, mudah dan murah perawatannya, bermanfaat untuk kehidupan masyarakat, bisa diandalkan setiap saat, serta ramah lingkungan. Mereka membutuhkan pembangkit listrik tenaga surya atau angin, instalasi air bersih, infrastruktur telekomunikasi, ruas jalan, dermaga dan kapal laut, helipad sebagai sarana alternatif apabila terjadi kondisi darurat dan transportasi laut tidak memungkinkan, fasilitas pendidikan dan kesehatan, serta penunjang keamanan yang memadai. Setelah siap digunakan, libatkan mereka agar lama-kelamaan mereka mampu mengoperasikan dan mengelolanya sendiri.

CevKorindo014.jpg
Warga Papua yang diberdayakan untuk memulai bisnis peternakan oleh grup KORINDO. Foto diunduh dari situs resmi KORINDO.

Hal ketiga adalah mendorong pertumbuhan pendapatan asli daerah. Cara pertama adalah membangun badan usaha milik desa dan produk unggulan desa. Warga setempat diajak secara berkelompok mengenali sumber daya unggul dan berinovasi untuk menjadikan produk yang tidak banyak ditemukan di pasaran. Pemerintah memberikan bantuan modal, pelatihan kewirausahaan dan penguasaan teknologi, serta memfasilitasi kegiatan pemasarannya. Cara kedua adalah menggali potensi pariwisata yang ada di daerah tersebut dan menjadikan warga setempat sebagai pemandu wisata sekaligus pihak yang segala memenuhi kebutuhan wisatawan selama berada di sana.

CevKorindo015.jpg
Foto merupakan milik Joglo Abang Community.

Hal keempat adalah mewujudkan inklusi keuangan. Dengan wilayah yang sulit dijangkau keberadaan kantor cabang perbankan, menjadi tidak efisien apabila kita harus mengirimkan uang tunai secara berkala melalui jalur laut atau udara. Solusinya, warga daerah 3T mulai harus didorong menggunakan fasilitas transaksi digital alias cashless. Mereka juga perlu diajarkan bagaimana bisa berjualan sampai meminjam uang secara online.

CevKorindo016.jpg
Ilustrasi menara SUTT. Foto merupakan milik Antara.

Hal kelima adalah segala usaha yang membutuhkan modal besar tetap mendapatkan sokongan investasi dari pihak swasta, tetapi kepemilikan pihak asing harus dibatasi. Mereka diberikan insentif selama beberapa tahun pertama agar tertarik ikut membangun sendiri infrastruktur yang dibutuhkan untuk bisa berusaha, bukan menunggu dan menuntut Pemerintah menyediakannya secara lengkap agar bisa langsung beroperasi seperti prinsip saat ini. Satu lagi, mereka juga dituntut segera memulai prosesnya sesaat setelah mendapatkan hak penggunaan tanah usaha sehingga mengurangi potensi spekulasi dari penjualan kembali hak tersebut. Seterusnya, pajak dari usaha di sana dibayarkan dalam bentuk saham dan pembangunan nyata agar perlahan-lahan pemerintah daerah bisa memiliki pendapatan dari saham yang dimiliki sekaligus infrastruktur baru, investor tidak menguasai daerah tersebut sepenuhnya, dan warga setempat mendapatkan kailnya, bukan sekadar ikannya.

Belajar dari mereka yang telah berkontribusi mengembangkan daerah 3T

CevKorindo005.jpg
Kegiatan bisnis grup KORINDO untuk memajukan Indonesia. Foto diunduh dari situs resmi KORINDO dan diolah oleh penulis.

Grup KORINDO, grup yang telah beroperasi selama 48 tahun dan menjadi salah satu pemimpin industri di Asia Tenggara, adalah salah satu contoh pihak swasta yang berpartisipasi aktif dalam mengakselerasi pembangunan daerah 3T. Bergerak di bisnis kayu, minyak kelapa sawit, karet, plywood, wind tower, struktur besi, kendaraan berkebutuhan khusus, transportasi, pengiriman, investasi, asuransi, sampai real estat, sukses menerapkan hal-hal yang saya sebutkan sebelumnya.

CevKorindo004.jpg
Grup KORINDO membuka lapangan kerja baru, menyerap warga lokal Boven Digoel dan Merauke, juga mendukung kelahiran wirausahawan baru setempat. Infografis diunduh dari situs resmi KORINDO.

Demi mewujudkan usaha dan lingkungan yang berkelanjutan, grup KORINDO tidak menunggu adanya suatu daerah yang sudah dikembangkan dengan infrastruktur memadai, tetapi justru membangun jalannya sendiri agar bisa berusaha sekaligus berkontribusi kepada daerah tersebut. Hal ini dilakukannya di Boven Digoel dan Merauke, Papua, yang kini menjalankan usaha kehutanan dan kelapa sawit.  KORINDO membangun sendiri jalan dan jembatan yang mereka butuhkan, tidak menuntut dan menunggu pemerintah daerah setempat untuk menyediakannya. Tak mengherankan jika KORINDO berhasil berkontribusi terhadap 40% PDB dari wilayah Boven Digoel dan Merauke.

CevKorindo001.jpg
Infografis dibuat sendiri oleh penulis. Materi dan foto diunduh dari situs resmi KORINDO.

Begitu juga dengan asrama pegawai, fasilitas pendidikan, fasilitas kesehatan, penunjang usaha, fasilitas air bersih, listrik, sekolah, klinik, gereja dan masjid, pasar, pertokoan, lapangan olahraga, aula desa, sampai rumah kepala suku yang jelas tidak hanya ditujukan untuk operasional usaha tetapi juga dapat dimanfaatkan masyarakat setempat. Satu hal lagi, KORINDO benar-benar menyerap warga setempat sebagai tenaga kerjanya dan memberikan transfer ilmu juga kepada mereka.

CevKorindo002.jpg
Infografis dibuat sendiri oleh penulis. Materi dan foto diunduh dari situs resmi KORINDO.

Fasilitas ini tidak hanya ditujukan untuk pegawai perusahaan, tetapi kepada seluruh masyarakat secara umum. Salah satu contohnya adalah Klinik Asiki yang berada di luar kawasan perusahaan dan bisa didatangi siapa saja yang membutuhkan pengobatan. Perusahaan tak main-main di sini, mereka juga melengkapi klinik dengan berbagai peralatan modern layaknya rumah sakit di kota besar dan didukung juga SDM yang lebih profesional. Tak sampai di situ, Klinik Asiki juga melaksanakan program “mobile service” ke kampung-kampung terpencil dan perbatasan di wilayah sekitar perusahaan yang berada di Kabupaten Boven Digoel, Papua. Misinya sangat mulia, yaitu menurunkan angka kematian ibu melahirkan dan bayi yang saat ini cukup tinggi sekaligus intensitas penyakit infeksi tropis, seperti malaria, HIV/AIDS, dan TBC.

CevKorindo003.jpg
Penghargaan Padmamitra Award yang diterima oleh salah satu anak usaha grup KORINDO. Foto merupakan milik situs resmi KORINDO.

Tak mengherankan, jika grup KORINDO melalui PT Tunas Sawa Erma (TSE) berhasil membawa pulang Padmamitra Award, penghargaan tertinggi yang diberikan oleh negara melalui Kemensos kepada dunia usaha atas kontribusi dan perhatiannya kepada kondisi sosial masyarakat. TSE berhasil meraih penghargaan dalam penanganan keterpencilan melalui program CSR bagi masyarakat di daerah 3T, yaitu program pelayanan kesehatan. Masyarakat Papua sangat terbantu dengan kehadiran kontribusi grup KORINDO ini.

Kesimpulan

Daerah 3T adalah wilayah Indonesia yang berhak mendapatkan kemakmuran setara dengan kota-kota besar. Dengan sumber dayanya yang begitu kaya dan belum tersentuh, jangan sampai masyarakatnya terus menderita dan daerah ini jatuh ke tangan negara lain. Daerah ini harus dibangun dan dibina dengan baik atas kerja sama antara seluruh warga Indonesia, bukan hanya menunggu uluran tangan Pemerintah. Daripada hanya bisa menyalahkan dan memberi kritik, lebih baik kita bergerak seperti grup KORINDO, bukan? Semoga kebaikan seperti ini tidak berhenti di grup KORINDO saja, tetapi justru menginspirasi kita semua untuk berlaku serupa.

4 respons untuk ‘Belajar dari Grup KORINDO, Swasta Berperan Meningkatkan dan Memeratakan Taraf Hidup Daerah 3T, Tidak Terus Hanya Menunggu dan Menuntut Pemerintah

  1. Sebuah sumbangsih yang baik dari perusahaan swasta untuk daerah yang ditempati memang seharusnya seperti itu kan, tanpa berpangku tangan dari pemerintah untuk membantu warga apalagi di daerah 3T, semoga kegiatan serupa juga diikuti oleh institusi/perusahaan lainnya

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.