Perjalanan Empat Tahun Menjadi Narablog Profesional di Era Digital, Membuatku Bangga, Makin Kaya, dan Lebih Baik Lagi di Masa Mendatang

Era digital mengubah segalanya, termasuk memberikan peluang kepadaku untuk meraup pendapatan dengan cara baru dan kesempatan lebih luas dalam meningkatkan popularitas dengan menjadi narablog profesional. Cita-cita? Tidak juga. Menjadi narablog profesional awalnya sama sekali tak terpikirkan di kepala saya karena semula blog hanya didirikan sebagai pusat informasi dan sumber pengunduhan dokumen bagi rekan-rekan setim. Banyak referensi dibaca, banyak pemikiran di kepala, tetapi semuanya berakhir begitu saja. Ketika dibahas dengan orang-orang terdekat, tak ada satu pun dari mereka yang paham dan saya justru dianggap “kurang waras” karena membicarakan hal-hal yang menurut mereka tidak jelas. Perkenalan dengan profesi ini bermula ketika seorang senior yang cukup menyukai dan menguasai bahasa Indonesia menyarankan saya untuk menuangkan semua pemikiran tersebut dalam bentuk tulisan di blog. Saya pun disarankan tidak hanya mengurus materinya saja, tetapi juga mencakup konten kreatif sebagai penunjangnya. Tujuannya sederhana, yaitu saya mampu menyalurkan hobi, bakat, dan pemikiran saya untuk dinikmati orang-orang yang memang membutuhkan dan memahaminya, tidak berlalu begitu saja dan juga jauh dari anggapan sebagai orang “gila”.

Awal pilu sebagai seorang narablog

Masalah tak berhenti sampai di situ. Anggapan negatif tetap saja menghinggapi diri saya sebagai orang “gila” yang berani mengemukakan pikiran “abstrak” dan hanya akan berperan dalam proses pembodohan anak bangsa. Bagi mereka, menjadi narablog itu tidak memberikan keuntungan sama sekali. Butuh waktu, butuh listrik, butuh kuota internet, tetapi imbalan yang didapat tergolong minim bahkan tidak ada. Sebaliknya, narablog dianggap hanya sedang mencari panggung popularitas dengan cara mempermalukan dirinya sendiri di hadapan warganet, misalnya saja ketika kita-kita ini melakukan kesalahan ketik atau kurang tepat dalam memahami suatu konteks. Akan tetapi, tekad saya sama sekali tak padam karena didukung oleh ayah, ibu, dan senior saya tadi yang terus memberikan motivasi. Mereka menyarankan saya untuk mengikuti lomba blog dari penyelenggara kredibel dan berusaha memenangkannya agar mampu membungkam mulut-mulut pedas tadi.

p1

Nasib pun berbalik

Setelah sebelumnya berpartisipasi dan memenangkan lomba blog Menolakdiam yang menurut saya lebih bergerak di bidang sosial dan pengalaman hidup, lomba blog pertama dalam karir yang saya anggap persaingan sengit, kebutuhan akan kompetensi di bidang sains yang tinggi, dan kesulitan menulis yang sangat menguras otak adalah IMAJINESIA 2 besutan Toyota Indonesia. Durasi pendaftaran begitu lama, jumlah peserta begitu banyak, tetapi hanya ada tiga orang juara utama dan satu orang juara tema. Dengan berbekal sedikit pengetahuan dari mengikuti dunia balap dan mendengarkan cerita ayah yang berkecimpung di dunia otomotif, saya memberanikan diri menulis artikel mengenai kendaraan pedesaan masa depan yang kemudian menjadi juara satu sekaligus juara tema di lomba tersebut. Modalnya sangat seadanya, yaitu sebuah netbook untuk menulis dan mengunggah, kertas dan pensil untuk menggambar sketsa mobil yang dimaksud, serta ponsel pintar untuk mengabadikannya dalam bentuk digital. Tanpa kemampuan menggambar yang baik, saya tidak terlalu yakin bisa menang karena ilustrasi yang disuguhkan lebih mirip seperti gambar anak SD yang hanya diberikan nilai KKM oleh gurunya dan sama sekali tidak kompetitif dibandingkan narablog lainnya dengan gambar digital yang begitu detil dan cantiknya. Nasib berkata baik, di usia yang masih muda dan jam terbang menulis yang masih sangat rendah dibandingkan para senior, saya bisa mengalahkan mereka dan pengalaman ini memotivasi saya untuk menjadi narablog yang jauh lebih baik lagi.

Sejak tahun 2015 sebagai awal perkenalan saya dengan profesi ini hingga 2018 kemarin, saya sangat bersyukur bahwa konsistensi dan kerja keras saya dalam meningkatkan kualitas tulisan selalu membuahkan hasil di mana saya tidak pernah absen memenangkan lomba blog setiap tahunnya. Mulut-mulut pedas yang tadinya meremehkan saya kini justru mencari saya untuk meminta bantuan terkait bagaimana caranya mempromosikan usaha mereka di dunia maya sekaligus ingin diperkenalkan juga untuk menjadi seorang narablog profesional. Kemarin kalian ke mana saja?

n2

Bangga menjadi narablog? Pasti!

Semua perjuangan, cemoohan, dan keberhasilan yang telah saya lewati selama empat tahun memupuk rasa kebanggaan menjadi seorang narablog profesional dan berat sekali jika suatu saat saya harus meninggalkan profesi yang begitu saya nikmati ini. Banyak alasan untuk menjelaskannya, tetapi kali ini mungkin saya hanya membahas intisarinya.

Pertama, seorang narablog memanfaatkan waktunya dengan begitu efektif. Ketika orang lain menikmati waktu luangnya untuk bersantai tanpa tujuan yang jelas, kita terus menjalankan hakikat sebagai pembelajar seumur hidup. Teknik dan kualitas penulisan, kreativitas dalam pembuatan konten kreatif, disiplin untuk memenuhi tenggat waktu, serta kemampuan untuk memahami literatur dengan baik adalah hal-hal yang terus diasah untuk membuat konten blog yang lebih baik lagi. Semua ini dilakukan tanpa beban karena berasal dari hati dan potensi pendapatan finansial pun sudah menanti, baik dari pendapatan iklan, imbalan atas jasa ulasan, maupun hadiah lomba blog.

a1

Kedua, seorang narablog bukanlah pribadi yang jago kandang dan takut pada senior. Ketika kita masih menjadi blogger “bau kencur”, kita harus menghadapi para senior yang sama sekali tidak kita kenal sebagai kompetitor. Kita tidak perlu takut kalah bahkan bisa mengungguli senior kita dengan cepat jika membuat konten berkualitas dengan penuh dedikasi dan menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Misalnya saja, saya berhasil mengalahkan Jeng Yuni Andriyani yang kalibernya tak perlu diragukan lagi hanya di lomba blog kedua sepanjang karir saya. Lama-kelamaan, seperti yang sudah saya rasakan, para senior ini justru menjadi teman yang baik untuk berbagi pikiran dan informasi terkait dunia blog, misalnya perkenalan saya dengan Mas Gugus Febriansyah (jurnalia.com) dan Bang Adhi Hermawan.

a2

Ketiga, seorang narablog mampu berbagi sekaligus mempertebal dompet secara bersamaan. Materi yang dihasilkan akan tersimpan selamanya di internet dan bisa dibaca secara gratis oleh warganet di seluruh dunia untuk menambah wawasan mereka, di sinilah letak berbaginya. Di mana letak keuntungannya? Pendapatan iklan, imbalan atas jasa ulasan, dan hadiah lomba blog menjadi sumber keuntungan bagi seorang narablog tanpa harus memungut bayaran dari pembacanya. Memang semua ini tidak langsung didapat ketika materi pertama naik tayang, tetapi konsistensi, usaha, dan doa akan membuat yang tidak ada menjadi sedikit dan seterusnya membentuk bukit. Modal yang dibutuhkan pun tidak terlalu besar dibandingkan mendirikan usaha karena sebagian besar di antaranya memang sudah dimiliki dan mutlak diperlukan untuk mendukung pekerjaan utama, misalnya saja komputer dan ponsel pintar berkoneksi internet, kan? Jika kita tidak bisa mendulang pendapatan, kerugiannya pun tidak besar dan tidak akan membuat kita bangkrut, ingatlah bahwa awalnya kita menjadi narablog hanya untuk berbagi dan menyalurkan hobi. Berdasarkan pengalaman, dengan modal seadanya yaitu netbook uzur, ponsel pintar, kuota terbatas berbiaya murah, dan situs gratis dari WordPress, saya sanggup membeli laptop baru, membiayai biaya pulang ke kampung halaman, sedikit jajan-jajan, dan membeli sepatu, baju, serta celana baru untuk bekerja.

a3

Keempat, seorang narablog memiliki keleluasaan yang begitu besar untuk menyuarakan pendapat dan kesempatan untuk menaikkan popularitas. Tanpa adanya moderator dan kurator eksternal untuk menyaring dan menyunting konten dengan prospek pembaca dari seluruh dunia, seorang narablog bisa menuliskan apa saja sesuai pemikiran dan hatinya. Akan tetapi, di sinilah tantangan muncul untuk tetap menghadirkan materi yang benar, objektif, berimbang, berkualitas, dan menguntungkan semua pihak sehingga tidak melanggar hukum dan tidak menimbulkan perselisihan di masyarakat. Dengan demikian, narablog mampu memiliki popularitas dengan sentimen positif tanpa harus memiliki modal besar, jabatan dan status sosial yang tinggi, takluk pada pembatasan kebebasan oleh pihak tertentu, dan membuat sensasi-sensasi yang tidak penting. Lihat saya, apakah saya adalah orang yang populer? Sampai saat ini, lihatlah jumlah pengikut Instagram yang hanya sedikit melebihi 100 akun dan pengikut Twitter yang kurang dari tiga puluh.

a4

Kelima, sampai saat ini saya selalu berusaha untuk menghasilkan materi dengan diksi dan tata cara penulisan yang baik dalam bahasa Indonesia. Jika bukan kita yang melestarikan bahasa kita sendiri dan menggunakannya dengan baik, lama-kelamaan pamor bahasa kita akan semakin menurun dan bangsa ini justru lebih senang menggunakan bahasa asing. Belum lagi, penulisan dengan kaidah kebahasaan yang salah juga merupakan pendidikan yang buruk bagi para warganet.

Resolusi untuk menambah pencapaian di 2019

Sepanjang empat tahun karir, begitu banyak lomba blog sudah saya menangkan dari berbagai bidang mulai dari perekonomian, teknologi, sampai kesehatan dari penyelenggara berupa instansi pemerintah maupun pihak swasta. Hadiahnya pun beragam, mulai dari voucher belanja, uang tunai, sampai ponsel pintar. Puas sampai di situ? Tidak. Saya ingin memenangkan lomba blog lebih banyak lagi dengan tingkat kesuksesan dibandingkan lomba blog yang diikuti haruslah lebih tinggi, banyak ikut tentunya harus banyak menang juga. Dengan pendapatan yang meningkat, saya bisa membeli peralatan yang lebih mumpuni untuk membuat konten kreatif berkualitas tinggi. Selain itu, saya memiliki resolusi lainnya yaitu :

r1

  • menerima endorsement dan jasa ulasan produk dari produsen ternama, khususnya produsen teknologi
  • meningkatkan jumlah pengunjung ke blog sekaligus peringkatnya di Google
  • meraup keuntungan dari pendapatan iklan
  • membuat semua konten kreatif sendiri baik berupa infografis, ilustrasi, maupun video
  • menjadi juri lomba blog, syukur-syukur dipercaya sebagai juri utama atau juri tunggal
  • menulis konten kolaborasi dengan narablog lainnya baik dari dalam maupun luar negeri

Bagaimana cara mencapainya? Tentu dengan terus meningkatkan kemampuan dalam menulis dan menghasilkan konten kreatif, menambah wawasan untuk dijadikan materi, belajar dari para senior, menyesuaikan diri terhadap perkembangan zaman, berusaha untuk menghasilkan konten berkualitas lebih banyak lagi, dan tak lupa memanjatkan doa kepada Sang Pencipta. Sekian kisah saya, terima kasih telah membaca dan semoga menginspirasi.

Iklan

2 respons untuk ‘Perjalanan Empat Tahun Menjadi Narablog Profesional di Era Digital, Membuatku Bangga, Makin Kaya, dan Lebih Baik Lagi di Masa Mendatang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.