Salah Beli Laptop, Pemenuhan Kebutuhan Tak Maksimal, #2018GantiLaptopASUS Lagi dan Tetap #ASUSLaptopku bersama VivoBook Flip 14

Sampai hari ini, komputer jinjing alias laptop benar-benar masih menjadi andalan saya untuk menuntaskan berbagai pekerjaan sekaligus menjalani rutinitas sampingan sebagai seorang blogger. Sepintar apapun ponsel pintar alias smartphone yang saya punya, keberadaannya sama sekali belum mampu menggantikan peran laptop. Perbedaan sistem operasi, keterbatasan instruksi yang bisa diproses oleh prosesor ponsel, keterbatasan aplikasi yang tersedia, dan keterbatasan fitur yang diakomodasi oleh aplikasi membuat smartphone lebih layak diposisikan sebagai pelengkap laptop, bukan pengganti laptop.

Ponsel untuk blogging? Kurang nyaman

Urusan blogging pun kurang lebih sama saja. Layar yang tergolong kecil membatasi ruang gerak untuk menghasilkan konten kreatif berkualitas terbaik. Tidak tersedianya papan ketik (keyboard) fisik membuat saya kesulitan mengetik dengan cepat tanpa kesalahan ketik (typo). Belum lagi, saya harus terus melakukan scrolling (menggulir layar) secara terus-menerus untuk mengakses toolbar yang berisi kostumisasi tulisan (bold-huruf tebal, italic-huruf miring, dan underline-garis bawah), penggunaan poin-poin (bullet and numbering), tata letak paragraf (left-rata kiri, center-rata tengah, right-rata kanan, dan justify-rata kiri kanan), dan memasukkan konten multimedia.

Ketika saya ingin menyunting gambar, aplikasi yang tersedia di ponsel saya hanya mampu melakukan pemberian bingkai (frame), pengaturan warna (hue, brightness, contrast, dan saturation), kolase beberapa gambar, dan melukis di atas gambar yang sudah ada. Ketika saya ingin menyunting video, efek dan transisi yang tersedia begitu terbatas dan tidak bisa ditambah lagi. Cukup sulit pula untuk menentukan titik yang benar-benar pas dalam proses memotong video (trimming). Proses menyimpannya pun cenderung lama dan menghabiskan waktu.

Kenangan bersama netbook lama

Dulu, kebutuhan saya hanya seputar mengetik, membuat presentasi ringan, dan menjelajah internet. Dengan kocek yang terbatas pula, saya memilih sebuah netbook berprosesor Intel Atom N450 dengan RAM 1GB, HDD 250GB, dan sistem operasi asli Windows 7 Starter. Harganya murah meriah untuk ukuran delapan tahun lalu, Rp4 juta termasuk lisensi OS untuk menjamin keamanan komputasi sekaligus terhindar dari masalah ketika bepergian. Jika saya membutuhkan kecepatan yang lebih, saya pun bisa meminjam laptop ASUS milik kakak sepupu dengan spesifikasi yang sedikit lebih baik, berprosesor Intel Celeron dengan RAM 2GB. Di laptop inilah saya membuat konten kreatif sekaligus menulis artikel di blog saya, spesifikasinya tidak perlu tinggi-tinggi amat karena saat itu tingkat persaingan untuk memenangkan lomba blog belum sesengit sekarang dan artikel dengan hanya berisi tulisan panjang masih bisa menang dengan sangat mudahnya. Sebagian besar konten kreatif pun masih bisa dibuat dengan berbekal smartphone. Kondisi ini terus berlangsung hingga tahun 2016 ketika laptop kakak tak bisa lagi saya pinjam karena kini beliau harus membawa laptop bersamanya setiap hari.

Masalah pun mulai datang. Aktivitas di bidang matematika dan keuangan membutuhkan aplikasi yang semakin hari semakin kompleks sehingga tak lagi didukung oleh netbook tersebut. Ukuran dokumen dan situs web yang dikunjungi pun semakin hari semakin berat sehingga netbook-nya jadi sering membeku (freeze) dan crash. Jangankan membuat konten kreatif, melakukan perhitungan sederhana dengan Microsoft Excel pun sudah sangat berat dan layar menunjukkan kapasitas RAM tidak mencukupi. Memindahkan data dari flash disk atau ponsel ke netbook ini juga memakan waktu yang sangat lama meskipun ukurannya tidak terlalu besar, benar-benar membuat sakit kepala.

Saya berusaha bertahan dengan meminjam laptop teman atau fasilitas komputer yang disediakan, tetapi semuanya tidak bisa dibawa pulang sehingga saya harus bekerja dengan cepat demi terselesaikannya pekerjaan. Tertekan? Tentu sangat tertekan, saya tidak bisa mengeluarkan seluruh kemampuan yang saya punya dalam menyelesaikan pekerjaan, menulis artikel, dan membuat konten kreatif. Banyak konten untuk lomba blog tidak selesai tepat waktu dan sisanya yang terselesaikan pun tidak memiliki kualitas yang optimal sehingga prestasi pun sulit digapai.

Mempensiunkan netbook dan menggantinya dengan laptop baru

Sejak mulai mengalami masalah dengan sang netbook, saya mulai berusaha untuk mengikuti lomba blog yang bisa menghadiahkan saya sebuah laptop, beberapa di antaranya diselenggarakan oleh ASUS Indonesia termasuk yang perlombaan terkait laptop entry level gaming berprosesor AMD FX dan juga produk VivoBook S. Sayangnya, semuanya berujung pada kekalahan.

Mengapa harus ASUS? Sebagai brand laptop nomor satu di Indonesia, Asia Tenggara, Asia Pasifik, Eropa Timur, dan Eropa Tengah, ASUS dikenal menyediakan laptop yang berkualitas dan tahan lama. Kontrol kualitas pun selalu dilakukan dengan menguji produknya dalam serangkaian tes ekstrem untuk memastikan pengalaman terbaik, belum lagi teknologi eksklusif yang diberikan dan pelayanan pascapenjualan berupa garansi global selama dua tahun yang dilayani oleh pusat servis di berbagai wilayah.

Setelah enam bulan didorong oleh teman-teman untuk membeli laptop baru demi peningkatan produktivitas dan tak kunjung mendapatkannya sebagai hadiah lomba blog, saatnya datang dan saya dengan sangat terpaksa membelinya dengan kocek pribadi pada awal Januari 2018. Laptop dengan prosesor Intel Core generasi ke-8 cukup mudah diperoleh di pasaran dengan harga yang lebih terjangkau karena saat itu Rupiah menguat cukup signifikan terhadap US Dollar.

Ikut-ikutan teman-teman yang lain, saya memilih laptop ASUS Vivobook A442UQ untuk menjadi andalan komputasi saya yang berikutnya. Spesifikasi menjanjikan, harga yang cukup terjangkau, sistem operasi asli Windows 10, dan pengalaman yang cukup baik bersama laptop milik kakak dari produsen terbaik di Asia ini meyakinkan saya untuk memboyongnya pulang. Saya masih ingat betul, di hari Minggu-nya, laptop ini masih dibanderol Rp8.6 juta. Dua hari kemudian, tepatnya hari Selasa, teman saya memberitahu bahwa harga laptop ini terkoreksi menjadi Rp8,4 juta. Saya langsung berangkat ke sentra komputer di Mangga Dua dan berkeliling dari toko ke toko untuk mencari harga terbaik. Menjelang tutup, saya menemukan sebuah toko resmi ASUS di lantai dasar gedung Orion Dusit Mangga Dua yang menawarkan harga termurah yaitu Rp8.25 juta. Saat itu, saya lupa membawa uang dan kartu bank apapun, untungnya toko tersebut memiliki lapak di Tokopedia sehingga saya bisa memproses transaksi dengan meminjam kartu kredit milik saudara saya. Laptop berwarna abu-abu pun dikeluarkan dari gudang, dipastikan berada dalam kondisi baik dan layak pakai, kemudian langsung diboyong pulang.

Wolfram
Wolfram Mathematica, aplikasi perhitungan matematika yang menjadi salah satu alasan kuat saya untuk berganti laptop. Kebutuhan prosesor, RAM besar, dan discrete graphics tak mungkin dipenuhi oleh netbook lamaku. Komputer pinjaman dengan prosesor Intel Core i3 dan RAM 4GB pun masih sering crash dibuatnya. Eh, ternyata setelah digunakan di laptop sekarang, dia lebih membutuhkan clock speed yang tinggi (konstan di atas 2 GHz) dan biasanya hanya menggunakan maksimal empat dari delapan thread prosesorku (tepatnya CPU 1, CPU 2, CPU 3, dan CPU 7). Salah beli laptop dong? Ya kan?

Pengalaman bersama laptop baru

Laptop baru ini tentulah memberikan pengalaman yang jauh lebih menyenangkan dibandingkan sebuah netbook berusia delapan tahun yang dipaksa untuk bekerja keras. Saya bisa menggunakan lebih banyak aplikasi baru dengan segudang fitur.

  • Dengan netbook, menjalankan Microsoft Office 2007 sudah sangat ngos-ngosan. Dengan laptop baru, menjalankan Microsoft Office 2016 begitu lancar tanpa hambatan.
  • Dengan netbook, menjalankan Adobe Photoshop CS4 membutuhkan waktu yang cukup lama. Dengan laptop baru, menjalankan Adobe Photoshop CS6 begitu mulus dan cepat.
  • Dengan netbook, saya hanya bisa menyunting video dengan aplikasi Windows Movie Maker dan menyimpan video berdurasi lima belas menit bisa memakan waktu hingga dua jam. Dengan laptop baru, saya bisa menyunting video dengan aplikasi VEGAS Pro dan menyimpan dengan durasi serta kualitas yang sama tak sampai tiga menit.

Laptop ini memang sudah jauh lebih baik. Saya tidak perlu lagi meminjam perangkat milik orang lain dan bisa lebih santai dalam menyelesaikan setiap pekerjaan di rumah. Ukuran layarnya juga jauh lebih besar sehingga lebih ramah terhadap mata saya yang saat ini tingkat minus dan silinder-nya sudah mendekati tiga, sekaligus mengurangi intensitas scrolling yang harus saya lakukan. Bobotnya pun hampir sama bahkan sedikit lebih ringan dibandingkan netbook. Tipis? Lebih tipis pula.

DUMET4
VEGAS Pro, aplikasi edit video profesional yang saat ini sedang dipelajari dan digunakan oleh penulis untuk menghasilkan video dengan kualitas yang lebih baik lagi.

Ingin ganti laptop baru lagi

Tahun ini baru berjalan hampir sembilan bulan dan Cevan sudah mau ganti laptop baru lagi? Ada apa? Masih kurang bagus laptop-nya?

Ketika saya kembali lagi ke toko enam bulan kemudian dan mengeluhkan hal ini, mereka sampai geleng-geleng kepala. Prosesor sudah model terbaru dengan empat inti dan delapan thread, RAM dan HDD besar, kartu grafis lebih dari cukup untuk mengolah konten kreatif dan bermain games, masih kurang juga. Saya pun mulai menyebutkan satu per satu kendala yang saya punya.

  • Kipas prosesor langsung berbunyi kencang ketika laptop diajak untuk menyelesaikan permasalahan matematis atau membuat program yang cukup kompleks. Jika harus berurusan dengan banyak data, turbo boost prosesor langsung menaikkan clock speed ke batas atas dan tak jarang layar laptop kemudian membeku, tidak merespon permintaan kita, serta harus dimatikan terlebih dahulu secara paksa sebelum dinyalakan kembali dan beroperasi seperti biasanya. Manajemen daya pun menjadi lebih boros dan baterai lebih cepat karena TDP yang dikonsumsi oleh prosesor meningkat. Untuk apa punya laptop dengan prosesor bagus kalau tidak bisa diajak bekerja keras dan baterainya cepat habis?
  • Waktu yang diperlukan untuk booting cukup lama, bahkan lebih lama dari sebuah netbook. Sejak tombol power ditekan sampai masuk ke tampilan desktop, laptop ini memakan waktu lebih dari dua puluh detik ketika netbook jadul berusia delapan tahun hanya membutuhkan waktu paling lama enam belas detik. Hal ini cukup mengganggu jika saya harus menyelesaikan pekerjaan yang sangat urgent atau memiliki ide yang cukup panjang, mudah terlupakan, dan ingin segera dicatat. Selama ini, hal ini saya siasati dengan mematikan laptop ke kondisi hibernate dan bukan kondisi shutdown, tapi mau sampai kapan?
  • Pilihan otorisasi untuk masuk dari lock screen ke desktop hanya terbatas pada PIN dan password. Ketika kita berada di tempat umum bersama orang lain, ada risiko sandi kita terintip dengan jelas mengingat membutuhkan waktu untuk mengetikkannya sampai selesai.
  • Untuk membuat konten kreatif berupa sketsa pribadi, hanya menggunakan touchpad tentu membuatnya sangat tidak rapi dan presisi. Ketika saya coba menggunakan drawing tablet dari Wacom Intuos yang saya peroleh karena memenangkan salah satu lomba blog, rasanya tetap saja hal ini tergolong merepotkan. Tidak ada layar di perangkat tersebut sehingga saya kebingungan di mana saya harus menempatkan pen saya, belum lagi perangkat ini memakan tempat tambahan dan sangat merepotkan jika meja yang tersedia berukuran kecil.
  • Ukuran layar sudah sangat pas dan saya kesulitan menggunakan laptop dengan layar berukuran lebih kecil. Masalahnya, laptop ini tidak muat karena sedikit kebesaran untuk masuk ke lemari saya dan juga sebagian besar tas punggung yang saya miliki. Saya hanya bisa membawanya dengan tas punggung yang diberikan bersama pembelian laptop dan hal itu tidak memungkinkan saya membawa barang lain.

 

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Solusi pilihan laptop baru yang lebih sesuai

Mendengar keluhan saya, mereka tidak terlalu bingung untuk menyediakan solusi dan dengan cepat menyarankan produk ASUS VivoBook Flip 14 seri TP410 yang masuk dalam keluarga ASUS Premium Series. Laptop ini tergolong tipis dan ringan (menjadi keunggulan utama pertamanya), bahkan mampu menjadi laptop convertible 14 inci pertama yang memiliki bezel atau bingkai layar yang sangat tipis karena :

  • Slot optical disc drive (ODD) yang biasanya digunakan untuk membaca kepingan CD atau DVD tidak disertakan di laptop ini sehingga mendukung dimensinya menjadi lebih tipis. Keberadaannya pun sudah jarang sekali digunakan dan digantikan oleh perangkat penyimpanan berbasis USB seperti flash disk atau external hard disk. Tak jarang, dokumen penting digandakan ke ponsel pintar melalui koneksi Bluetooth. Semua fasilitas ini tersedia di produk ini dengan ketersediaan satu slot SD Card, satu port USB-C, dua port USB 2.0, satu port USB 3.0, dan konektivitas nirkabel Bluetooth 4.1.
  • Port VGA untuk koneksi ke proyektor juga ditanggalkan dari produk ini mengingat kemampuannya yang kurang mumpuni untuk menayangkan konten beresolusi tinggi, struktur kabel yang mudah patah, dan seringkali warna yang ditampilkan tidak sesuai. Sebagai penggantinya, digunakanlah port HDMI dengan tampilan yang lebih baik dan dimensi yang lebih kecil sehingga membuat laptop ini lebih tipis. Penggunaannya sudah sangat marak di masyarakat dan saya tidak pernah kesulitan untuk meminjam kabelnya ke manapun saya beraktivitas.
  • Kerangka laptop ini terbuat dari bahan aluminium sehingga mendukung dimensinya tipis (titik tertebal memiliki ketebalan hanya 19.2 mm), bobot ringan hanya 1.6 kg, dan pastinya tampil elegan nan stylish.
  • Produk ini dikatakan bisa menyelesaikan semua keluhan saya dengan spesifikasi yang lebih sesuai.

Keluhan kamu bisa selesai, Cevan? Bagaimana caranya? Masalah yang pertama adalah beban kerja prosesor yang berlebihan. Meskipun memiliki empat inti dan delapan thread, prosesor Intel Core i5-8250U hanya memiliki frekuensi standar sebesar 1.6 GHz dan masih bisa ditingkatkan dengan turbo boost hingga 3.4 GHz. Penggunaan saya sehari-hari lebih menekankan pentingnya clock speed dibandingkan jumlah inti dan thread sehingga prosesor ini kurang cocok untuk saya. Melihat seri yang tersedia untuk produk ini, pilihan saya hanya ada dua.

  1. Beralih ke prosesor Intel Core i7-7500U. Prosesor ini dengan frekuensi standar sebesar 2.7 GHz dan dapat ditingkatkan hingga 3.5 GHz sehingga tentu menawarkan clock speed yang lebih tinggi dan prosesor tidak perlu menggunakan mode turbo yang terlalu keras sehingga manajemen daya tentu lebih baik. Permasalahannya, jumlah intinya hanya dua dan jumlah thread pun hanya empat sehingga di beberapa kasus tentu lebih lambat dibandingkan prosesor yang saya gunakan sekarang. Sayangnya juga, prosesor ini pun hanya dipadukan bersama kartu grafis NVIDIA GeForce 930MX yang sedikit lebih lambat dibandingkan milik VivoBook saya sekarang meski sama-sama dibekali memori sebesar 2GB. Kombinasi ini bisa saya temukan di produk ASUS Vivobook Flip 14 TP410UR.
  2. Naik kelas ke prosesor Intel Core i7-8550U. Sama-sama berasal dari keluarga Intel Core generasi ke-8 dan memiliki tingkat kasta satu lebih tinggi, prosesor ini pasti lebih kencang dibandingkan yang saya gunakan sekarang. Clock speed standarnya lebih tinggi yaitu 1.8 GHz dan bisa ditingkatkan dengan turbo boost hingga 4 GHz sehingga mampu memenuhi kebutuhan saya yang lebih kompleks lagi di kemudian hari. Jumlah inti dan thread-nya pun sama dengan prosesor saya sekarang, masing-masing berjumlah empat dan delapan. Berita baiknya lagi, prosesor yang terdapat di produk ASUS VivoBook Flip 14 TP410UF ini dipadukan dengan kartu grafis yang juga lebih baru dan lebih kencang yaitu NVIDIA GeForce MX130.

Masalah kedua adalah waktu booting yang lebih lama. Hal ini disebabkan oleh penyimpanan sistem operasi yang masih berbasis HDD sehingga tentu kecepatan baca-tulis datanya tergolong lambat terlebih lagi jumlah data yang dibutuhkan di zaman sekarang lebih banyak. Solusi yang ditawarkan oleh dua produk sebelumnya adalah kombinasi SSD sebesar 128GB untuk menyimpan sistem operasi dan aplikasi serta HDD sebesar 1TB untuk menyimpan data. Hal ini tentu membuat booting time dan waktu eksekusi program menjadi lebih cepat. Kapasitas penyimpanan data pun lebih besar karena tak lagi perlu berbagi dengan sistem operasi dan aplikasi. Rata-rata laptop yang menggunakan SSD hanya membutuhkan booting time kurang dari sepuluh detik.

Masalah ketiga adalah pilihan cara otentikasi user yang tergolong privat. Produk ini menyediakan solusi berupa pembaca sidik jari (finger print) untuk login melalui fitur Windows Hello. Ukuran sensornya pun cukup besar, berbentuk persegi, dan bersatu dengan touchpad sehingga mudah diakses dan tingkat akurasinya pun lebih baik, bandingkan dengan sensor lama berbentuk garis horizontal di mana kita harus mengingat bagian mana dari jari kita yang tersimpan di laptop tersebut. Ini menjadi keunggulan utama kedua dari produk ini.

Masalah keempat adalah keribetan untuk menghasilkan konten kreatif. Layar produk ini beresolusi FHD, berukuran 14 inch, dan dilengkapi teknologi layar sentuh (touchscreen) sehingga memudahkan aksesibilitas dan proses membuat konten kreatif beresolusi tinggi. Sesuai namanya yang mengandung kata “flip“, laptop ini bisa dilipat dengan engsel bersudut 360 derajat (satu putaran penuh) dan digunakan untuk tampil dalam empat mode yang sekaligus menjadi keunggulan utama ketiga dari produk ini.

  1. Mode powerful laptop, membawa laptop ke dalam bentuk notebook dan digunakan untuk mengetik dan bekerja seperti biasa bersama keyboard fisik.
  2. Mode responsive tablet digunakan dengan melipat layar sampai kedua bagian tutup untuk membaca referensi, mencari konten multimedia dengan mudah (mengunduh gambar bisa dilakukan hanya dengan menekan lama gambar tersebut), melukis dan menyunting gambar, serta hal-hal lainnya yang membutuhkan akurasi seperti menentukan titik untuk memotong musik dan video. Dua poin terakhir bisa dilakukan dengan bantuan ASUS Pen yang bisa dibeli secara terpisah dan gerakannya terdeteksi sampai jarak sejauh 6 mm. Untuk membuat konten kreatif berupa lukisan dan infografis, peletakan dan penggambaran bisa dilakukan secara rapi dan presisi tanpa perlu lagi membawa-bawa Wacom Intuos ke mana-mana.
  3. Mode shared viewer membawa laptop ke bentuk seperti tent (tenda) dan digunakan untuk meletakkan laptop ini dalam kondisi berdiri demi bisa menonton animasi dan video dari jarak yang lebih dekat bersama orang-orang tersayang sambil beristirahat. Di sini, saya bisa meminta pendapat mereka sebagai penonton dan reviewer awal dari konten saya nantinya.
  4. Mode media stand digunakan untuk berpresentasi dengan tetap bisa mengendalikan tampilan sekaligus sedikit mengintip tanpa kehilangan pandangan kepada pendengar.

 

Masalah kelima adalah dimensi laptop yang sedikit kebesaran di tengah ukuran layar yang sudah pas. ASUS Vivobook Flip 14 menggunakan teknologi 8N NanoEdge untuk menekan ketebalan bezel hingga 8 mm dari bezel milik VivoBook setebal 17 mm sehingga rasio layar ke bodi (screen-to-body ratio) mencapai 78.7% dan dimensinya mengecil menjadi setara laptop 13 inch. Ukuran layar maksimal, ukuran body minimal, begitulah sederhananya. Laptop pun tampil ramping, ringan, dan sekarang bisa masuk ke lemari serta tas punggung kesayangan saya. Inilah keunggulan utama keempat dari produk yang satu ini.

Keunggulan lain produk ini

Dari tadi saya terus membicarakan mengenai kecocokan laptop ini untuk menyelesaikan masalah saya, memenuhi kebutuhan dalam urusan pekerjaan dan membuat konten kreatif di blog saya, juga menjadikannya sebagai pendamping yang stylish. Nah, sekarang saya akan membahas fitur lain yang membuatnya tidak hanya cocok untuk saya tapi untuk kita semua.

  1. Layar dengan teknologi wide view hingga 178 derajat untuk menampilkan warna dan kontras yang hidup dengan berani meski dilihat dari sudut yang tergolong tajam.
  2. Tersedia webcam beresolusi VGA untuk melakukan panggilan video langsung dari laptop.
  3. Koneksi WiFi dual-band 802.11ac yang bisa digunakan untuk internet nirkabel baik di rumah, kantor, maupun tempat publik.
  4. Speaker 2W berteknologi SonicMaster, ASUS Golden Ear, dan ICE Power untuk memastikan kualitas suara yang jernih, merdu, dan nyaring, dipadukan pula dengan satu port 3.5mm sebagai jack microphone-in sekaligus headphone-out untuk merekam dan mendengarkan suara secara privat di tempat umum. Membuat konten kreatif berbasis audio pun menjadi mudah dengan memastikan kualitasnya baik dan sebisa mungkin melibatkan suara penulisnya sendiri. Menonton film atau mendengarkan musik? Lebih nyaman lagi.
  5. Baterai tiga sel berkapasitas 42Wh yang bisa bertahan seharian karena dipadukan dengan komponen hemat daya sehingga cocok untuk mobilitas dan portabilitas kita. Pengisiannya pun cepat dengan mengandalkan adaptor bertegangan 19VDC dan berarus 3.42A sehingga menghasilkan daya sebesar 65W. ASUS pun membekalinya dengan teknologi Battery Health Charging untuk memperpanjang umur baterai sekaligus mengurangi kemungkinan kerusakan akibat pembengkakannya dengan mengatur batas pengisian ke tiga tingkat, 60% (maximum lifespan, berhenti mengisi di level 60% dan mengisi kembali jika kapasitas sudah turun ke level 58%), 80% (balanced mode, berhenti mengisi di level 80% dan mengisi kembali jika kapasitas sudah turun ke level 78%), atau 100% (full charging capacity). Dua mode pertama cocok digunakan ketika laptop dicas dalam kondisi hidup dan mode terakhir digunakan ketika laptop dicas dalam kondisi mati.
  6. Backlit keyboard (tidak tersedia di seri TP410UR dan TP410UA dengan prosesor Intel Core i3) untuk menyalakan lampu papan ketik di tengah kegelapan.
  7. RAM dengan teknologi DDR4 untuk memberikan memori berkapasitas besar dan berkecepatan tinggi.
  8. Chicklet keyboard berukuran full-size untuk memastikan kita tidak perlu beradaptasi lagi sebelum mulai mengetik dengan laptop ini.
  9. Engsel yang digunakan untuk mengubah mode sudah menjalani tes buka-tutup (hinge test) dan membuktikan bahwa laptop ini aman hingga siklus 20.000 kali. Jika saya melakukannya enam kali per hari pun, engsel ini masih mampu bertahan hingga sembilan tahun.

 

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Selain spesifikasi, sistem operasi yang umum digunakan dan memiliki banyak aplikasi didukung tentu sangat dibutuhkan. Sistem operasi Windows 10 asli tersedia di semua seri untuk memastikan produk ini aman dari serangan dunia maya dan terhindar dari masalah hukum di kemudian hari akibat pembajakan perangkat lunak.

 

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Produk yang tersedia di pasaran

Setelah tertarik, saatnya kita melakukan pemilihan dari tiga seri ASUS Vivobook Flip 14 TP410. Produk mana yang akan kita pulang?

Kasta teratas dihuni oleh ASUS VivoBook Flip 14 TP410UF yang hanya memiliki satu pilihan produk. Memadukan prosesor Intel Core i7-8550U, RAM 8GB, kartu grafis NVIDIA GeForce MX130, dan penyimpanan berupa SSD 128GB ditambah HDD 1TB, produk ini dijual seharga Rp14.6 juta.

Kasta tengah dihuni oleh ASUS VivoBook Flip 14 TP410UR dengan empat pilihan produk berbasis prosesor yang sedikit lebih “uzur” dan juga kartu grafis NVIDIA GeForce 930MX yang sedikit lebih “uzur”, yaitu :

  1. Core i7-7500U, RAM 8GB, SSD 128GB + HDD 1TB yang dibanderol seharga Rp13.6 juta
  2. Core i3-7100U, RAM 8GB, HDD 1TB, dibanderol seharga Rp9.8 juta
  3. Core i3-7100U, RAM 4GB, HDD 1TB, dibanderol seharga Rp8 juta
  4. Core i3-7100U, RAM 4GB, HDD 500GB, dibanderol seharga Rp7.6 juta

Kasta terendah dihuni oleh Asus Vivobook Flip 14 TP410UA yang hanya mengandalkan kartu grafis internal yaitu Intel HD Graphics 620. Seri ini memiliki tiga produk, yaitu :

  1. Core i5-7200U, RAM 8GB, HDD 1TB, dibanderol sebesar Rp9.1 juta
  2. Core i3-7100U, RAM 4GB, HDD 1TB, dibanderol sebesar Rp7.1 juta
  3. Core i3-7100U, RAM 4GB, HDD 500GB, dibanderol sebesar Rp6.9 juta
S03-P01-ProductLlist
Daftar produk yang tersedia dalam keluarga ASUS VivoBook Flip 14 berdasarkan Product Guide edisi Juli – Agustus 2018. Tampilan sudah dipercantik dan disesuaikan oleh penulis.

Harga di pasaran bisa saja lebih murah, tetapi awas tertipu barang palsu, black market, seken, atau rekondisi. Pastikan Anda mendapatkan barang baru yang masih tersegel bawaan pabrik dan dilindungi oleh garansi resmi ASUS selama dua tahun untuk kenyamanan di kemudian hari.

Apa kabar, Cevan? Waduh, harganya lumayan mahal juga ya untuk varian yang saya butuhkan, hampir bisa memboyong pulang satu motor matic baru. Terlebih lagi, kantong saya sudah kosong karena baru membeli laptop di awal tahun. Doakan saja supaya aku bisa memenangkan lomba kali ini dan memboyong pulang salah satu produk dari ASUS Vivobook Flip 14 dengan empat keunggulan utamanya seperti yang sudah dibahas di poin-poin sebelumnya : tipis dan ringan, memiliki NanoEdge Display, otentikasi dengan fingerprint sensor, dan bisa tampil dalam empat mode.

Hal yang akan dilakukan jika memiliki ASUS Vivobook Flip 14 ini

Laptop sekece dan secanggih ini enaknya diapain ya? Ya, harus dipergunakan dengan baik untuk menunjang produktivitas kita! Bagi saya sendiri, rencana saya bersama laptop ini kelak sebagai berikut.

  1. Saya akan menggunakannya untuk membaca buku elektronik, menonton video dan mendengarkan podcast pembelajaran, juga mengikuti sertifikasi online demi meningkatnya kemampuan di bidang matematika, keuangan, kepenulisan, dan pembuatan konten kreatif berbasis multimedia.
  2. Saya akan belajar menggambar sehingga menghasilkan sketsa buatan sendiri dengan kualitas yang lebih baik lagi dan bisa digunakan sebagai konten kreatif. baik dalam bentuk grafis maupun video, mengurangi penggunaan konten milik pihak lain dan meningkatkan kemandirian. Hal ini akan dilakukan baik di blog, partisipasi media massa, maupun buku-buku yang saya publikasikan di masa mendatang.
  3. Ke depannya, karena laptop ini sangat ringan dan portabel, bukan tidak mungkin dia akan selalu bersama-sama dengan saya di setiap perjalanan wisata, icip-icip kuliner, dan pastinya mengulas produk. Dipangku di mobil atau di kursi KRL Commuter Line bukanlah masalah dengan bobotnya yang ringan. Mendapatkan meja kecil seperti di pesawat terbang atau rumah makan? Tentunya lebih menyenangkan. Bukan tidak mungkin pula ke depannya saya bisa langsung menuntaskan dan mengunggah tulisan saat itu dan di tempat itu juga, tak perlu lagi tunggu pulang ke rumah sehingga konten yang dihasilkan masih benar-benar fresh.
  4. Beberapa tema yang cocok baik untuk pria dan wanita akan saya bahas dengan berkolaborasi bersama adik sepupu saya yang berjenis kelamin perempuan. Saat ini, laptop-nya masih menggunakan prosesor Intel Pentium yang pastinya lebih lambat sampai sering dipukul-pukul dan kabel flexible di layar sempat renggang karenanya. Baru-baru ini pun, HDD terpaksa diganti karena sudah tidak bisa digunakan. Sebelum rusak lagi karena dipukul-pukul, lebih baik saya menghibahkan VivoBook untuk meningkatkan kreativitas dan produktivitasnya sekaligus membantu saya menghasilkan konten yang lebih baik lagi di kemudian hari. Saya harap, dengan kebutuhannya yang tidak sekompleks saya, laptop VivoBook sudah jauh lebih dari cukup untuknya dan tidak dipukul-pukul lagi.

 

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Saking enaknya bercerita, mohon maaf ya kalau tulisannya jadi panjang. Semoga bermanfaat bagi kita semua khususnya Anda yang sedang mencari laptop. Ingat, membeli laptop itu lebih sulit dari membeli PC karena komponen di dalamnya tidak bisa seenaknya diganti dan ditingkatkan, tepatnya yang bisa kita upgrade hanyalah RAM dan penyimpanannya saja dengan harga yang tidak murah pula. Jika sudah tak cocok dan mengganti keduanya tidak cukup seperti pada kasus saya, suka tidak suka Anda harus membeli unit baru. Jika ada kritik, saran, tanggapan, ide, inspirasi, atau pertanyaan terkait konten di artikel ini, silahkan disampaikan melalui kolom komentar di bawah ini dan saya akan menerima serta menanggapinya dengan tangan terbuka. Sebagai penutup, berikut ulasan produk ini oleh ASUS Indonesia bersama Nerd Review.

Artikel ini diikutsertakan dalam lomba ASUS Laptopku Blogging Competition by uniekkaswarganti.com.

P13-AsusLaptopBaruku

Iklan

7 respons untuk ‘Salah Beli Laptop, Pemenuhan Kebutuhan Tak Maksimal, #2018GantiLaptopASUS Lagi dan Tetap #ASUSLaptopku bersama VivoBook Flip 14

  1. Sabar Mas, saya juga dulu pernah ikut lomba blog ASUS tp kalah wkwkwk… Akhirnya dpt laptop dr lomba lain. Tp belum sampai di tangan saya. Masih di rumah satunya. Jd sampai detik ini sy masih pinjam laptop juga. Mampir ke blog sy ya amiwidya dot com

    Suka

  2. iya dulu aku beli laptop juga salah karena pikir ah fungsinya cuma ketik-ketik aja. ternyata sekarang kebutuhan buat laptop juga perlu meningkat.. kayaknya emang perlu ganti laptop asus yang baru.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.